Ekspansi Perusahaan Indonesia di Afrika, WIKA Incar Proyek Senilai Rp6 Triliun

http://wika-algeria.blogspot.com/


BeritaDEKHOPT Wijaya Karya (persero) atau WIKA menargetkan dapat meraup kontrak sebesar Rp6 triliun dari negara-negara Afrika pada 2020. Target itu merupakan komitmen perseroan untuk meningkatkan ekpansai pasar global khususnya Afrika. (baca)

"Tahun ini nilai kontrak Rp5 triliun lebih. Target kami tahun depan itu kurang lebih Rp6 triliun kontrak baru dari mayoritas Afrika," kata Direktur Operasi III Wika Khusus Divisi Luar Negeri, Destiawan Soewardjono, dalam acara BUMN Going Global di Jakarta, Selasa, 10 Desember 2019.

Dia membeberkan ada 12 negara Afrika yang menjadi pasar potensial bagi perseroan. Negara seperti Aljazair, Nigeria, dan Senegal, lanjutnya, membutuhkan kontraktor Tanah Air untuk membangun infrastruktur.


Negara-negara tersebut punya potensi pembangunan proyek yang besar. Pasalnya, infrastruktur negara-negara Afrika masih seperti Indonesia di era 70-an. Namun, yang menjadi kendala ialah pembiayaan sehingga perseroan menggandeng Indonesia Eximbank terkait pendanaan dan risiko pembayaran serta studi lebih lanjut.

"Dengan potensi yang ada otomatis kami perlu untuk mengurangi risiko terkait pembayaran itu. Dengan Eximbank mitigasinya bisa bareng. Kalau Wika sendiri kan nanti Wika yang akan menanggung. Dengan Eximbank, mereka studinya bank lebih matang," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sekitar 3.000 tenaga kerja sudah dikirim ke Afrika untuk mengerjakan beberapa proyek perseroan yang merupakan kerja sama Wika dengan kontraktor Jepang dan Tiongkok.

"Afrika tadi kan potensi besar. Jepang siapkan USD25 miliar untuk beberapa proyek di sana, kan kita nebeng. Tiongkok juga gitu," ujarnya.

Selain Afrika, perusahaan pelat merah itu juga menggarap beberapa proyek di Asia Tenggara. Selain poryek bandara di Timor Leste yang sudah kelar, Wika juga tengah menggarap proyek infrastruktur di Laos dan Filipina.

Potensi Besar

Untuk menggarap potensi pasar Afrika dibutuhkan dukungan dari pemerintah. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengusulkan pemerintah membuka kedutaan baru di benua tersebut.

"Keberadaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara Afrika secara signifikan berpengaruh dalam mendorong peningkatan pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 1,12 persen," kata Kepala Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI, Ganewati Wuryandari, kemarin.

Untuk merealisasikan potensi ekspor tersebut, Indonesia dinilai perlu memahami kompleksitas Afrika yang beragam. Seperti di tataran etnik, agama, dan bahasa, serta kondisi sosial-politik yang terhitung sangat dinamis.

LIPI menilai untuk dapat memahami kompleksitas itu perlu keberadaan kedutaan dan lembaga studi Afrika.

Hingga sejauh ini, LIPI mencatat terdapat 16 KBRI untuk 50 negara akreditasi di Afrika. Dari 16 KBRI tersebut, lima KBRI terletak di Afrika Utara dan 11 di Sub-Sahara Afrika. Artinya, satu KBRI dapat menangani enam hingga 11 negara akreditasi sekaligus dalam menjalankan fungsinya. (adm)

Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH 
Share on Google Plus

About Admin2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...