Proyek LRT Medan Binjai Karo di Sumut

ilustrasi
BeritaDEKHOGubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memimpin rapat persiapan pembangunan Light Rail Transit (LRT) Medan-Binjai-Deliserdang-Karo (Mebidangro) di Gubernur Sumut, Jumat (21/6/2019).

Rapat dihadiri perwakilan Korea Rail Network Authority (KRNA) dan Pemko Medan.

Gubernur Edy Rahmayadi menyatakan, Sumatera Utara harus dapat menjadi provinsi maju dalam waktu dekat ini, Jumat (21/6/2019). (baca)

"Saya ingin membangun LRT di Mebidangro. Saya ingin nantinya  Pemerintah Korea Selatan bisa memberikan kepastian secara pasti, mengingat jumlah penduduk di kawasan Mebidangro sekitar 7 juta jiwa, sehingga bisa menjadi bahan perhitungan bisnis, jangan sempai pihak Pemprov Sumut atau Korea Selatan merasa ada yang dirugikan nantinya," ucapnya.

Setelah ada kepastian dari Korea Selatan, Edy Rahmayadi berharap tim KRNA bisa melebur dengan tim yang sudah ada di Sumut.

"Nantinya tim dari Korea Selatan bisa bergabung dengan tim yang ada di Indonesia. Setelah balik nanti (dari Korea), mari kita lihat langsung lokasi pembangunannya, intinya mari kita sama-sama bekerja, sembari mencari win win solution," ujarnya.

Selanjutnya, Edy Rahmayadi berharap agar hubungan persaudaraan Korea Selatan dengan Sumut bisa semakin erat lewat kerja sama ini.

"Ke depanya mari kita jadikan pekerjaan ini sebagai alat mempererat persaudaraan kita, kalian belajar bahasa Indonesia kami pun akan mengenal budaya dari Korea Selatan," harapnya.

Rencananya pada tahun 2020 pengerjaan LRT sudah berjalan. Nantinya, LRT Mebidangro akan beroperasi langsung dari stasiun pusat, yaitu Lapangan Merdeka Medan.

Adapun pembangunan jalur baru yang akan diaktifkan kembali adalah jalur Pancurbatu hingga Karo. Sisanya menggunakan jalur yang sudah beroperasi.

Wali Kota Medan Dzulmi Eldin menjelaskan bahwa proyek ini akan dibiayai Pemerintah Pusat dengan bantuan Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Kota Medan.

"Gagasan ini sudah lama ada,  kami juga sudah merumuskan pola pendanaannya dengan Bappenas dan Kementerian Keuangan, semua biaya pembanguan LRT akan didanai oleh Pemerintah Pusat, namun ada biaya rolling stock yang menjadi kendala, dibutuhkan dana sekitar Rp2,2 Triliun, mungkin pihak KRNA yang mewakili Pemerintah Korea Selatan bersedia menjadi investornya," ucapnya.

Jinbeck Lee, Managing Director Korea Raiload Technical Corporation mengatakan bahwa kerja sama ini telah lama dinantikan.

"Sudah bertahun tahun kami memeriksa proyek ini, kami ke sini untuk memastikan pelaksanaan pembangunan proyek ini."

"Usul apa pun dari pemerintah, kami siap mendengarkan karena Indonesia sudah seperti saudara sendiri. Nanti setelah pulang ke Korea Selatan, akan kami sampaikan pada Pemerintah Korea Selatan untuk dapat membantu proyek pembangunan ini," ucap Lee.
 (adm)

Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH 
Share on Google Plus

About peace

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a comment

loading...