Masukan untuk TS, Ini Keprihatinan Tokoh dan Ulama Muda Batak Soal #Pilpres2019

Tokoh Batak
BeritaDEKHO - Dua ulama muda Batak menyuarakan keprihatinan mereka soal pemilihan presiden 2019 yang sebentar lagi akan dilakukan.

Menurut mereka, tim sukses dan pendukung kedua pasangan capres, Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandi harus membantu menjernihkan pikiran masyarakat dan pemilih dari hal-hal yang tidak semestinnya.

"Saya sangat bersimpatik kepada Capres dan Cawapres Pilpres 2019, tapi saya kurang simpatik kepada pendukung keduanya yang senang dan hobby meng-share bahkan menciptakan berita-berita hoax hingga berakhir menjadi FITNAH.," tulis Ust H. Muhsin Salim Nasution, MA, salah satu ulama muda Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) di akun Fanpagenya baru-baru ini.

Berikut pesan lengkapnya

"Assalamu'alaikum Wr Wb

Saya sangat bersimpatik kepada Capres dan Cawapres Pilpres 2019, tapi saya kurang simpatik kepada pendukung keduanya yang senang dan hobby meng-share bahkan menciptakan berita-berita hoax hingga berakhir menjadi FITNAH.

Saya pesankan buat seluruh pendukung kubu Capres dan Cawapres baik Jokowi-Amin atau Prabowo-Sandi.

Sampai kapanpun harapan kita untuk mendapatkan pemimpin orang Sholeh itu yakinlah tidak akan pernah terwujud, bukan saja karena Calon nya yang kurang baik dan kurang profesional, tapi lebih karena mulut beracun pendukungnya yang suka menyebar berita hoax hingga berakhir fitnah sehingga membuat Allah murka atas perlakuan itu. Orang sholeh, insya Allah akan diberikan Allah pemimpin Sholeh.Maka, mari sholehkan diri kita masing-masing, hentikan menyebar berita hoax dan memfitnah.

#PemiluDamaiTanpaHoax
#PemikuDamaiTanpaFitnah."



Sementara itu Tuan Guru Batak dari Parsulukan Simalungun, Tgb Sabban ElRahmaniy Rajagukguk, juga mengungkapkan keprihatinan yang sama dalam sebuah status di facebooknya.


"#SHUFILIFE :

REPOTNYA MENGHADAPI TIM SUKSES

Judul di-atas terinspirasi dari beberapa komentar status saya di FB. Ternyata menghadapi TS di FB sgt repot sebab disana tdk ada kerendahan hati utk menerima kritikan atas kekurangan Kandidat yg di-usung. Kritik justru dicurigai sebentuk kebencian bukan kesempatan utk memperbaiki kekurangan.

Becanda pun divonis menghina. Manipulasi yg bisa memuaskan dan menghinakan dianggap hal biasa. Tdk penting benar atau salah, asal setiap tulisan dan informasi harus menguntungkan utk para kandidatnya. Baginya, kandidat yg didukung harus dipuja bak seperti dewa dan berhala.

Paling ironis, saya dpt komentar, kira-kira begini komentarnya "--tuan, bro, bos-- sebaiknya tentukan pilihannya kemana. Harus konsisten, apakah ke Jokowi dan Prabowo. Jangan hari ini, bela Jokowi dan besoknya lagi bela Prabowo." Kira-kira begitulah, komentarnya. Bayangkan, betapa rendahnya sikap kita dlm berbangsa.

Atas komentar ini, sebagian ada yg saya jawab dan sebagian saya diamkan. Namun, secerdas apapun jawaban kita tetap saja tdk bisa menyenangkan selagi itu ada nilai keberpihakan. Sebab vonis dan kebencian sdh mendahulu kata. Ternyata ada patsun dan prinsip dalam doktrin TS yakni Iblis sekalipun Kandidat yg kita dukung, wajib kita membusanainya dgn pakaian Malaikat.

Yg pasti saya bukan TS apalagi loyalis. Mengkritik pemimpin bangsa itu bagi saya kewajiban sebab saya sebagai rakyat ikut menggajinya. Jadi pemimpin yg tdk siap di-kritik sebaiknya jgn jadi pemimpin.

Sebagai anak bangsa, saya mengharapkan pemimpin bangsa ini bangga di-beri masukan, di-kritik bahkan lebih dari itu demi martabat bangsa. Sebab hakikat pemimpin melayani rakyatnya. Dan Gus-Dur telah memberi keteladanan itu, rela di-lengserkan demi keutuhan bangsa. Salam." 

Sebelumnya, H. Julkifli Marbun, MA tokoh muda Batak mengkritik beberapa posting dan analisis yang bernuansa adu domba yang tersebar di beberapa grup percakapn WA.

"Analisis bagus....Tp ada yg mengganggu sdkit n mgkn jg layak dibalas dn analisi (yg blm tentu bnr jg ๐Ÿคช๐Ÿคช๐Ÿ˜).. bahwa analisi itu sy lihat tendensiu khusunya dln penggunaan kata 'dendam' scr subjektif.. berpotensi mengadu domba org yg punya hak untuk memilih. Ini soal pilpres.. soal politik biasa. Bkn soal dendam2an ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜," tulis caleg DPR RI Partai Bulan Bintang dari Dapil Sumut II ini di WAG Alumni India.

Menurutnya, TS dan para pembuat analisis harus mengedepankan kedamaian dalam memperkenalkan program-program jagoannya.  (adm)

Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH 
Share on Google Plus

About peace

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...