Melihat Pesantren Kampung Quran Gagasan Almarhum DR. H. Sofyan Saha, Lc, MA

BeritaDEKHO - Almarhum DR. H. Sofyan Saha, Lc, MA, alumni India yang wafat baru ini (baca) merupakan anggota MUI Sumut yang mempunyai gagasan membangun Kampung Quran.

Gagasan itu dapat terlihat dalam sebuah situs crowdfunding sharinghappiness.org dan terletak di Tanjung Pura.

Berikut kutipannya dalam sebuah faundraising yang berakhir Desember 2017. (lihat sumber)

Kampung Qur’an yang berada di Pulau Banyak, Tanjung Pura ini digagas oleh Ustadz DR. HM. Sofyan Saha didedikasikan untuk masyarakat setempat.  Kampung ini juga dikenal sebagai kampung narkoba. Maka untuk mengembalikan generasi yang lurus aqidahnya dan sehat jasmaninya serta produktif, Ustadz Sofyan Saha yang juga merupakan Ketua Forum Dai Asean ini mendedikasikan dirinya untuk membangun kampung halamannya ini dan mengubahnya menjadi Kampung Qur’an.

Kenapa Dinamakan demikian, karena diharapkan didalamnya dengan berbagai bimbingan dari para ustadz dan ustadzah di Kampung Qur’an melalui pembiasaan dan pendekatan dengan Al Qur’an, secara perlahan dapat mengubah kondisi masyarakat yang saat ini mengalami degradasi dan jauh dari Qur’an. Para santri yang belajar juga berasal dari warga setempat dan pembinaan untuk warga setempat juga disediakan. Sudah tersedia beberapa fasilitas Kampung Qur’an untuk melengkapi kegiatan belajar dan mengajar di kampung tersebut.

Namun, Kampung Qur’an dan Santri butuh pasokan air bersih sebagai kebutuhan utama. Dikarenakan saluran air PDAM belum menyetuh kampung ini dan biaya pembuatan sumur bor yang sangat mahal. Untuk mendapatkan air bersih yang kualitasnya jernih dan sehat, dibutuhan pengeboran hingga minimal 100 meter kedalaman dikarenakan kampung ini dikelilingi oleh lautan.

Untuk itu, kami mengajak saudara-saudara untuk dapat membantu menyediakan Sumur Bor untuk Kampung Qur’an ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan pahalanya terus mengalir hingga akhirat kelak untuk kita dan keluarga kita. Aamiin… Allahumma aamiin..

Konsep membangun Kampung Quran sudah direncakaan sejak lama. Hal itu terlihat dalam sebuah tulisannya yang diposting kembali di Grup Whatsapp Alumni India oleh DR Harun Alrasyid.

Muhammad Sofyan Saha

Berikut ini, beberapa catatan sy tentang merancang masa depan. Bagaimana meraih cita-cita dan impian dalam usia yg terbatas.
Sy pernah menulis cita-cita dan impian, dalam berbagai diary dan buku catatan sy, singkatnya sbb:

0 -  15 thn : 
SD di Pulau Banyak dan MTsN tg Pura.
Saat itu sangat ingin kuliah naik pesawat terbang. Karena sangat lelah jalan kaki, naik sampan dan naik sepeda. Sambil sekolah, menebas, mencangkol, memelihara ayam, nanam padi di sawah, manjat pohon kelapa, menanam ubi, cabai, tebu, pisang. Hasilnya utk jajan sekolah dan buat celengan utk beli sepeda. 

15 - 20 thn:
Hijrah ke Pesantren Gontor, Jatim. Utk belajar bhs Arab dan Inggris, tetap ingin kuliah ke luar negeri dan mendirikan Pesantren.

20 - 25 thn:
Dapat beasiswa S.1 ke Mesir dan ke Australia. 
Ingin nikah sambil kuliah. Ingin membaca dan menulis sepuluh jam perhari.

25 - 30 thn:
Ingin kuliah S.2 di Pakistan, mengagumi pemikiran Abul Ala almaududi, Hasan Al Banna dan Abul Hasan Nadawy

30 - 35 thn:
Kuliah S.3 di Universty of Lucknow atau  Aligarh University. Ingin jadi Dosen. Setengah tahun di Jogja. Dosen Profesional. Tampil di TV, Radio, Koran.

40 - 45 thn:
Ingin jd Dosen Terbang, cepat naik pangkat dan punya Madrasah Baitul Quran. Ingjn punya kawan dari berbagai negara.

45 - 50 thn:
Ingin jadi Guru Besar /Profesor. Ingin mendirikan Pesantren Kampong Quran. Ingin berpartisipasi buat Palestina dan dunia Islam.bersahabat dgn tokoh nasional dan internasional. Ingin bermanfaat bg umat di Langkat melalui STAI JM (STAI Jam`iyah Mahmudiyah Tanjungpura Langkat-red).

50 - 55 thn:
Fokus Pesantren Kampong Quran dan Wirausaha Pesantren. Menjadikan Pesantren Kampong Quran sebagai MODEL sekolah yg bersih, rapi, membahagiakan siapa saja yg datang dan melihatnya.

55 - 60 thn:
Dosen antar provinsi dan antar negara,
Seratus Pesantren Kampong Quran di Sumut, kaderisasi Imam, Dai, Khatib, wirausahawan muda, kaderisasi pemimpin.

60 - 65 thn:
Persiapan pensiun total, pencanangan seribu kampong Quran di dunia.

65 - 70 thn:
Kaderisasi Pemuda Quran dan Pensiun Total serta meninggal dunia (sabda Rasul: usia umatku antara 60 sd 70). Bahagia di dunia sebelum bahagia di surga Nya, serta terjaga dari api neraka.

CATATAN:

Pertama:
Ternyata, cita-cita dan impian itu harus ditulis. Boleh diperbaiki. Disesuaikan dgn kondisi. Misalnya, sy tak jadi ke Pakistan karena zaman Benazir Butto terjadi kerusuhan sepanjang tahun itu. Sy tak jadi ke Aligarh University karena keamanan bagi mahasiswa asing terlalu ketat.

Kedua:
Ternyata, masalah nikah ketika kuliah tidak menjadi masalah. Hanya sebatas perjuangan yg berdinamika indah. Buktinya, sy bisa meraih Doktor dan isteri bisa meraih Magisternya.

Ketiga:
Alasan miskin bukan sebagai penghambat meraih cita-cita. Sy pernah tak makan nasi lebih dua tahun di pulau banyak. Hanya makan bubur, sagu, ubi dll. Ortu nelayan tradisional miskin. Dan ibu dukun patah tulang. Tak setiap hari orang patah tulang. Tanamkan, dimana ada kemauan di situ ada jalan. 

Keempat:
Pantang menyerah dengan keadaan sulit. Jika anda sulit, pasti ada org yg lebih sulit dari anda. Doktrin diri anda dgn kalimat: jika mereka bisa, maka saya juga harus bisa.

Langkat, januari 2018
Salam Bahagia Meraih Impian


Muhammad Sofyan Saha.


Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH 
Share on Google Plus

About peace

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a comment

loading...