Seberapa Miskin Kah Anda? Sebuah Instrospeksi

BeritaDEKHO - Opini Oleh: Julkifli Marbun (Alumni India, MA in Sociologi, Annamalai Universty, MA in Arabic Literature, University of Lucknow)

Tulisan ini hanya sebuah introspeksi bahwa ternyata selain terjebak dengan kekayaan, middle income trap, ada juga tipikal manusia yang terjebak dengan kemiskinan.

Yang saya maksud dengan terjebak itu adalah kondisi di mana yang bersangkutan tidak mengerti bahwa dirinya sebenarnya dianugerahi Allah SWT dengan berbagai kenikmatan, namun dirinya tetap merasa miskin.

Merasa miskin atau terjebak dalam kemiskinan ini tidak selamanya salah karena bisa juga mempunyai dampak psikologi yang baik.

Mari kita lihat contohnya; berapa banyak orang di dunia ini, atau di Indonesia pada khususnya, selalu bersikap pesimis kepada Tuhan dan kondisinya.

Sehingga, dia selalu mengeluh dan berkeluh kesah betapa dirinya sangat miskin atau sangat fakir bila dibandingkan dengan orang lain.

Dalam kasus ini ada dua kemungkinan; pertama yang bersangkutan mungkin saja memang benar miskin dengan penghasilan di bawah level yang wajar dan ini bisa masuk dalam asnaf delapan penerima zakat.

Kemungkinan kedua adalah yang bersangkutan bisa saja hanya terjebak dalam mentalitas miskin yang mana dia selalu merasa kekurangan dalam hidupnya.

Jenis kedua ini sering disebut sebagai orang yang tak bersyukur atau tak mengerti kata terima kasih dalam istilah masyarakat pada umumnya.

Tetapi, tidak jarang merasa miskin itu dapat dilihat dari sisi lain yang mempunyai arti positif. Selama ini tidak terjadi dalam kondisi kronis yang dapat disalahartikan sebagai 'minder', a.k.a tawakkal tingkat dewa

Baca: Tokoh Alumni: Tatap Indonesia dengan Optimis

Ada dua contoh unik mengenai hal ini.

Contoh pertama adalah pengalaman seorang mahasiswa India saat ingin meminta izin kepada orang tuanya untuk kuliah ke India.

Sebelumnya, orang tuanya telah berpesan bahwa mereka sudah tidak mampu membiayai perkuliahan anak-anaknya karena disebut sudah tidak mampu.

Maka dengan melewati beberapa rintangan, yang sebelumnya harus bekerja terlebuh dahulu, diapun akhirnya diterima kuliah di India setelah memenuhi persyaratan paspor dan tiket yang disyaratkan oleh Konsulat Jenderal India di tempatnya.

Saat meminta izin, alangkah terkejutnya dia bahwa orang tuanya tetap tidak memberi izin. Dan kalaupun si anak tetap pergi, dia harus menerima kondisi ortu hanya bisa menyediakan biaya Rp. 5 Juta untuk kepergiannya ke New Delhi.

Sontak, si anak terkejut. Bagaimana tidak, uang saku dari ortu tersebut sebenarnya sudah banyak, bahkan terlalu banyak untuk ukuran tahun 1996, sebelum krisis moneter.

Saat itu, tiket ke India masih Rp 750 ribu (350 USD), pengurusan paspor Rp. 250 ribu, ditambah belanja keperluan lainnya habis Rp. 2 Juta. Sisanya ditukar ke dolar, si anak masih mendapat 1.000 USD.

Si anak heran, apa sih yang salah, apakah si ortu yang merasa tidak mampu padahal mampu? salah fokus dalam mengukur kemampuan finansial atau apa?



Tapi, ternyata faktor budaya menjadi penghambat. Karakteristik masyarakat di Indonesia tidak selalu sama. Dalam contoh di atas, ternyata ada sebuah kebiasaan di daerah yang bersangkutan bahwa semua orang desa atau yang tinggal di desanya adalah petani.

Mereka bisa saja mempunyai tanah 10-20 Ha, tapi tetap merasa diri sebagai petani. Selain itu, hasil pertanian hanya akan diambil sedikit saja untuk keperluan sehari-hari, sisanya akan digunakan untuk membeli tanah pertanian lagi untuk ditanami, begitu seterusnya.

Walaupun dalam kasus anak ini, orang tuanya mempunyai usaha sampingan yang tidak kecil. Seperti toko emas, usaha transportasi, konstruksi dan lain sebagainya.

Tapi yah itu, filsafat mereka berdagang adalah untuk membesarkan usaha. Hasil usaha hanya akan sedikit dimanfaatkan untuk biaya hidup dan sekolah, sebagian besar akan dinvestasikan lagi sebagai modal.

Selain itu, di masyarakat mereka tinggal, ukuran kemampuan bertahan hidup itu berbeda dengan di tempat lain. Sebuah keluarga akan dianggap dapat bertahan hidup bila usahanya semakin besar, walau mungkin saja kualitas pangan dan nutrisi mereka tidak paralel dengan peningkatan usaha.

Contoh kedua adalah kisah seorang ibu penjual warung soto. Dia bisa menghidupi sembilan anak-anaknya sampai kuliah dan bahkan masing-masing kemudian bekerja sebagai birokrat, polisi dan lain-lain.

Banyak yang heran, mengapa penjual soto yang sederhana tersebut mampu menyekolahkan anak-anaknya setinggi itu.

Ternyata selidik punya selidik, ibu warung soto tersebut merupakan pensiunan guru dengan jabatan terakhir sebagai guru kepala sekolah.

Mereka mempunyai perkebunan 15 Ha dan usaha warung soto beberapa buah.

Sama seperti contoh di atas, di lingkungan mereka, seseorang hidup sesuai dengan cita-citanya. Ibu ini ternyata cita-citanya adalah menjadi petani, yang lain hanya sampingan.

Sehingga gaji dan penghasilan kebun dan usaha warung soto sebagian besar diinvestasikan lagi dalam bentuk pembelian tanah. Hanya sedikit yang dipakai untuk keperluan sehari-hari dan membiayai sekolah anak. Itupun ternyata bisa sampai ke level perguruan tinggi.

Tapi ini berbeda dengan contoh di atas yang disebut tak tahu terima kasih itu. Justru dari konteks budaya mereka tinggal bentuk syukur ketika dianugerahi kesehatan dan kemampuan berusaha adalah dengan terus mengembangkan usaha tersebut. Kondisi usaha yang dinamis menjadi cara hidup yang penuh syukur dalam pengertian ini.

Contoh menarik lainnya adalah kisah seorang mahasiswi yang kuliah di Medan. Orang tuanya selalu menitip pesan bahwa si anak harus selalu hemat, tak boleh hura-hura karena dia harus memperhatikan kondisi orang tua yang hidup hanya bertani (serta beberapa usaha sampingan) yang disebut tak mampu.

Tapi, sang anak selalu terkejut orang tuanya selalu mengirim uang dalam jumlah yang banyak, dan diklaim sangat sedikit itu.

Alhasil, si anak pun kuliah dan hidup hemat di Medan, dan menyimpan banyak uang kiriman dari kampung. Uang tersebut, secara diam-diam, dia gunakan untuk mencicil sebuah rumah dari sebuah perusahaan properti.

Setelah beberapa lama anaknya bercanda dengan memberitahu ibunya bahwa dirinya ingin membeli rumah (padahal sudah dibeli).

Sang ibu langsung marah.

"Saya ini orang tak mampu, hidup hanya bertani. Saya tak mau menambah uang kirimanmu," bentaknya.

Padahal si anak tersenyum, uang kiriman yang ia terima sudah lebih dari cukup.



Sisi baik dari cerita ini adalah bahwa ternyata ada orang yang terjebak dalam kemiskinan tapi mempunyai sisi positif. Walau dua contoh terakhir ini termasuk dalam katagori keluarga mampu namun tak disadari, mereka tetap hidup sederhana. Mereka tak berambisi memiliki mobil pribadi, bahkan tak berniat membelikan anak-anaknya sesuatu yang wah dalam ukuran mereka.

Sisi negatif nya adalah, kesalahan dalam mengukur kemampuan finansial terkadang merugikan ketika akan melakukan tindakan. Misalnya, karena merasa tidak mampu, seseorang tak membeli kendaraan pribadi. Padahal di beberapa contoh memiliki kendaraan pribadi justru lebih efisien dan hemat dibandingkan dengan berjalan kaki atau naik angkot.

Memiliki tempat usaha di kota atau mall, bisa saja lebih hemat dari di desa atau emperan jalan. Tapi karena terlanjur merasa tidak mampu padahal bisa, langkah itu tak dilakukan.

Melakukan ekspansi usaha ke level nasional dan internasional bisa saja lebih menguntungkan dari pada hanya berkutat di desa atau lokal. Tapi, karena sudah merasa tak mampu, dan tak pernah dicoba, kesempatan itu terbuang sia-sia.

So, apakah anda orang kaya atau orang miskin yang terjebak dengan kekayaan atau kemiskinan? Silahkan tentukan sendiri. Semoga yang terbaik buat anda.

Wassalam

Baca berita menarik lainnya:

1. Yuk Berkurban Bersama Alumni India.
2. Investasi Tanah Bersama Alumni India.
3. Artikel opini berikutnya lihat di sini
Share on Google Plus

About Admin2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a comment

loading...