Pajak Payudara Divisualisasi dalam Seni

BeritaDEKHO - Kisah wanita yang memotong payudaranya sebagai protes diskriminasi 'pajak payudara' di India diangkat oleh seniman.

Empat tahun yang lalu, pelukis Murali T tanpa sengaja menemukan laporan tentang Nangeli. Tertarik dengan cerita tersebut, dia pergi ke Desa Chertala untuk mencari tahu lebih lanjut.

"Saya menghabiskan waktu yang lama dengan penduduk setempat di Cherthala bahkan menemukan daerah yang dipercayai pernah ditinggali Nangeli 100-an tahun lalu. Daerah itu dinamakan Mulachhipuram atau diartikan sebagai daerah perempuan berpayudara, diambil dari kisah pengorbanan hebat Nangeli melawan pajak payudara," kata Murali kepada BBC.

Namun, cerita mengenaskan tersebut sangat dihormati oleh penduduk setempat, dan saat ini Murali T berencana untuk mendokumentasikannya serta berharap nantinya akan diakui pemerintah sebagai bagian dari sejarah Kerala.

'Pajak payudara' dan kasta di India

'Pajak payudara' diberlakukan oleh raja negara bagian Travancore yang merupakan salah satu dari 550 negara bagian pada masa kepemerintahan Inggris di India.

Para wanita kasta rendah tidak diperbolehkan menutupi payudara mereka dan dibebani pajak tinggi apabila mereka melanggar.

"Tujuan pajak payudara adalah untuk mempertahankan struktur kasta," kata Dr Sheeba KM, doktor ilmu ekologi gender dan Dalit, universitas Shri Shankaracharya Sanskrit Vishwavidyalaya di Kerala. (bbc)
Share on Google Plus

About Admin2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a comment

loading...