Bisnis Penyewaan Drone Mulai Menjamur

BeritaDEKHO - Pesawat helikopter mini tanpa awak atau drone kini menjadi tren baru di masyarakat dari berbagai usia. Bukan sekadar hobi, drone juga bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. Perangkat kamera untuk foto dan video yang dibawa drone bermanfaat untuk mengambil citra dari udara. Rental drone pun bermunculan.

Salah satu yang getol mempopulerkan drone adalah West Borneo Aeromodelling (WBA). Komunitas ini terbentuk tahun 2010, berawal dari hobi bermain pesawat aoeromodelling. Seiring waktu, drone mulai muncul dan menjadi hobi baru, karena bisa membawa kamera.

Ada yang kategori pro ada yang untuk, hobi saja atau mainan, biasanya untuk selfie. “Sekarang siapapun bisa memilikinya, karena sudah lumayan murah, terutama untuk kategori mainan,” ujar Hilman Shafwan, salah seorang pengurus WBA dilaporkan Pontianak Post.

Namun drone ternyata tidak hanya menjadi sekadar hobi. Alat ini mampu menjangkau medan-medan yang sulit dilalui lewat darat. Drone juga membuat orang tidak perlu letih naik ke atas ketinggian untuk mengambil citra objek di bawahnya. Alih-alih menyewa helikopter yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tak heran, banyak orang yang terjun ke bisnis penyewaan drone ini. Termasuk para anggota WBA.

Proyek-proyek yangmenjadi garapan rental drone adalah pemetaan dan dokumentasi video serta foto. Biasanya yang menyewa itu perusahaan perkebunan sawit. Mereka ingin memetakan kebun mereka.

”Dengan drone menjadi jauh lebih cepat dan mudah karena semua kelihatan dari atas. Khusus pemetaannya, kami patok Rp30 ribu per hektar,” sebut orang yang bekera di bidang Propam Polda Kalbar ini. “Sementara untuk dokumentasi, kami mematok tarif minimal Rp2 juta per proyek. Angka tersebut bisa menjadi lebih tinggi, tergantung durasi dan tingkat kesulitan pengambilan gambar,” sambungnya.

Hilman sendiri enggan menyebutkan omzet yang diterimanya dari rental drone ini. Penghasilannya tidak tetap. Alasannya, belum banyak yang tahu tentang aerografi (pengambilan gambar dari udara) ini. “Lumayanlah untuk jajan,” ujarnya.

Pihaknya sendiri tidak menyewakan perangkat drone semata, melainkan dengan operatornya. Lantaran, seperti helikopter sungguhan menerbangkan drone memerlukan jam terbang tinggi dan keahlian khusus. Apalagi untuk medan-medan sulit. Hal ini juga yang turut membuat usaha rental drone mendapatkan permintaan.

Harga drone sendiri relatif murah, tentu bila dibandingkan dengan helikopter. Di pasaran, drone rakitan bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah tergantung spesifikasinya. Adapula drone yang sudah jadi, tanpa harus capek merakit, seperti merek DJI Phantom. Harganya juga bervariasi tergantuk speknya.

Drone rakitan dan DJI Phantom atau sejenisnya memiliki perbedaan, walau tak banyak. Menurut Hilman, drone rakitan lebih fleksibel dalam peningkatan kemampuan. Sementara DJI Phantom sulit diupgrade.

“Kalau rakitan, kita bisa upgrade alat-alat di dalamnya, seperti kamera dan lainnya. Sementara kalau buatan pabrik sudah mentok, dan dikunci, jadi tidak bisa diupgrade. Tetapi banyak juga yang sudah punya kamera HD dan spek yang tinggi,” ungkapnya.

Permintaan Profil Perusahaan Meningkat

Penggunaan drone atau quadcopter mulai merambah jasa fotografi dan videografi. Orange Indonesia, salah satu pelaku bisnis tersebut menyebut permintaan pembuatan dokumentasi atau profil perusahaan kini mulai menggunakan gambar-gambar yang diambil dari atas.

“Biasanya kami menyesuaikan dengan permintaan customer. Beberapa frame video yang diambil dari atas itu digabungkan dengan video dari kamera DSLR yang diambil dari bawah. Dari atas untuk mengambil aset gedung atau lahan, sedangkan di bawah untuk syuting yang lebih detil atau orang.” kata Yodi Rismana dari Orange Indonesia.

Disebutkan dia, pihaknya mengambil kesempatan saat beberapa kliennya memang membutuhkan foto udara untuk memantau dan menampilkan gambar meluas aset-asetnya.

“Awalnya kami hanya mengambil video atau foto dari bawah saja. Ternyata ada klien yang butuh untuk memantau asetnya dari atas. Akhirnya kami membeli drone dan kamera go-pro dengan kualitas high definition,” katanya.

Pihaknya harus mengeluarkan uang belasan juta rupiah sebagai investasi pengadaan drone DJI Phantom. Drone tersebut pun secara rutin diterbangkan untuk melatih keterampilannya mengambil gambar, sambil mengambil kesempatan dari kebutuhan klien. Seiring waktu, jasa yang ditawarkannya tersebut semakin dikenal orang, apalagi dia mempromosikannya secara online melalui website dan akun Instagram.

Soal tarif, pihaknya tidak memberikan tarif khusus untuk pengambilan gambar via drone. “Harganya tidak bisa langsung ditetapkan, harus dilihat dulu kebutuhannya seperti apa. Makanya, sebelum ada deal dengan konsumen, kami harus ngobrol dulu untuk membicarakan apa saja yang diinginkan. Nanti baru hitung-hitungan,” pungkasnya.

Menurut dia, maraknya penjualan drone, terutama untuk seri murah tak membuat jasa fotografi dan videografi profesional via udara menjadi lesu. Pasalnya, kata dia, sama seperti fotografi darat, aerografi juga membutuhkan keahlian dari operatornya atau pilotnya. (adm)
Share on Google Plus

About Admin2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...