Pelaku Usaha Sapi Bertemu Mentan

BeritaDEKHO - Pertemuan ini dilaksanakan guna menampung aspirasi para pelaku usaha dan diharapkan permasalahan yang timbul di lapangan dapat segera terurai, seperti distribusi dan penyediaan sapi dari NTT untuk kebutuhan nasional dan khususnya DKI Jakarta dapat berjalan lancar dan cepat dengan harga yang murah.

“Pertemuan dengan 47 pengusaha sapi di NTT telah menghasilkan kesepakatan. Yaitu pertama, masa karantina sapi di Instalasi Karantina Hewan sebelumnya memerlukan waktu 1 hingga 2 minggu, menjadi 1 hingga 2 hari. Jadi mulai saat ini kami akan mempermudah, demi kelancaran pasokan pemenuhan daging sapi nasional dan khususnya DKI Jakarta,” papar Mentan usai menggelar pertemuan tersebut.

Kedua, Mentan menyebutkan adanya pemangkasan biaya penerbitan surat izin di desa. Ketiga, Penerbitan surat izin dari kabupaten dan propinsi sebelumnya 1 hingga 2 minggu menjadi 1 hari selesai.

Kemudian Keempat, biaya angkut sapi sebelumnya Rp 1,8 juta per ekor tapi dengan nanti menggunakan kapal khusus ternak menjadi Rp 320 ribu per ekor. Harga ini sudah termasuk biaya asuransi dan pakan ternak selama di kapal. Kelima, persentase kuota sapi dari NTT ke DKI Jakarta sebesar 70 persen dari total sapi yang dimiliki NTT.

“Keenam, kami juga menyepakati penerbitan surat rekomendasi dari daerah penerima sebelumnya diperlukan dengan memerlukan waktu 3-4 hari, menjadi tidak diperlukan rekomendasi,” tutur Mentan.

Dikutip dari Pertanian.go.id, Kesepakatan ini, berlaku untuk memasok sapi ke PT Darma Jaya yang merupakan perusahaan daerah miliki DKI Jakarta yang disubsidi pemerintah.

Gubernur NTT, Frans Leburaya jamin kelancaran penyediaan sapi dari NTT ke DKI Jakarta dan daerah lainnya, dan mempermudah urusan perizinan dan administrasi lainnya dengan waktu pengurusannya selesai dalam waktu 1 hari.

“Kalau urusan izin dan administrasi lainnya di Propinsi NTT, saya jamin 1 hari selesai. Kami tidak akan mencari pendapatan asli daerah dari retribusi izin sapi. Masih banyak sumber lain,” ungkap Gurbenur.

Gurbenur menjelaskan pemerintah Propinsi NTT sejak 2008 bertekad menjadi propinsi ternak. Pemerintah Propinsi NTT terus mendorong instalasi pembibitan ternak sapi karena kebutuhan bibit sapi di masyarakat sangat tinggi entuk menambah populasi sapi.

“Awal jadi gubernur, populasi ternak hanya 500 ribu ekor. Sekarang mencapai 900 ribu ekor lebih. Di Timor telah ada 4 instalasi pembibitan dan di Sumba ada 2 instalasi pembibitan,” tutur Gubernur

Untuk menjamin kelancaran ketersediaan stok sapi dan tidak adanya masalah di lapangan, Gurbenur berjanji akan meminta para bupati untuk menertibkan retribusi yang selama ini memberatkan pelaku usaha. “Ini agar harga jual sapi dari pelaku usaha yang dikeluarkan ke daerah lain menjadi murah dan sapi mudah dikumpulkan,” imbuhnya. (red2)
Share on Google Plus

About red 2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...