Ini Estimasi Lembaga Antariksa LAPAN Soal Kebakaran Hutan

BeritaDEKHO - Beberapa bulan terakhir, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah. Kebakaran hutan ini menuntut perhatian berbagai pihak agar dapat diatasi dengan baik. Untuk itu, LAPAN turut berkontribusi dalam upaya penanganan kebakaran tersebut. Selama ini, LAPAN terus memantau dan memberikan informasi berbasis teknologi antariksa untuk membantu mengatasi kebakaran tersebut.

Dikutip dari Lapan.go,id, berdasarkan hasil pemantauan data penginderaan jauh LAPAN selama periode 21 Juni hingga 20 Oktober 2015, diperkirakan sebanyak 2.089.911 hektar luas wilayah Indonesia yang mengalami kebakaran hutan atau lahan. Perinciannya perkiraan tersebut yaitu sebanyak 618.574 hektar merupakan lahan gambut dan 1.471.337 hektar merupakan lahan nongambut. Kebakaran terjadi di Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Jawa, dan Maluku.

Di wilayah Sumatera, sebanyak 832.999 hektar daerah yang terbakar dengan rincian 267.974 hektar merupakan lahan gambut dan 565.025 hektar merupakan lahan nongambut. Di wilayah Kalimantan, seluas 806.817 hektar daerah yang terbakar dengan rincian 319.386 lahan gambut dan 487.431 lahan nongambut. Di wilayah Papua, sebanyak 353.191 hektar lahan terbakar dengan rincian 31.214 hektar lahan gambut dan 321.977 hektar lahan nongambut.

Sementara itu di wilayah Sulawesi sebanyak 30.912 hektar, Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 30.162 hektar, Jawa sebanyak 18.768 hektar, dan Maluku sebanyak 17.063 hektar. Daerah yang terbakar di keempat wilayah tersebut merupakan lahan nongambut.

Estimasi luas dan sebaran burned area (daerah terbakar) tersebut diperoleh berdasarkan data satelit penginderaan jauh selama Juni dan Oktober 2015. Data satelit yang digunakan berasal dari Terra Modis, Terra-Aqua-Modis, SNPP-VIIRS, Landsat-8, SPOT-5, SPOT-6, dan SPOT-7. Kemudian, estimasi ini juga diperoleh berdasarkan integrasi analisis peta lahan gambut dari Kementerian Pertanian, peta batas administrasi kabupaten/kota dan provinsi dari BIG. Hasil pemantauan tersebut bersifat perkiraan atau estimasi. Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Dr. Rokhis Komarudin, akurasi metode yang dibangun LAPAN tersebut mencapai 75 persen.

Pemantauan daerah terbakar yang paling kecil dapat dideteksi oleh satelit Aqua/Terra MODIS yaitu 6,22 hektar. Metode estimasi ini tidak dapat mendeteksi area terbakar pada lokasi yang selalu tertutup awan dan asap tebal.
Share on Google Plus

About Admin2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...