PM Australia: Tenggelamnya Anak Suriah Pengingat untuk "Hentikan Perahu Migran"

Tony Abbot
BeritaDEKHO - Gambar tragis mengenai anak Suriah yang tenggelam hingga tewas menjadi pengingat mengenai perlunya untuk menghentikan perahu pencari-suaka gelap, kata Perdana Menteri Australia Tony Abbot pada Jumat (4/9).

Tony Abbott mengatakan gambar "sangat menyedihkan" mengenai anak itu yang didapati meninggal secara tragis di satu pantai Turki adalah pengingat bahwa menyelamatkan nyawa pencari suaka bergantung atas dihentikannya perahu.

Ketika berbicara kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC) pada Jumat, Abbott mengatakan Australia tidak menduga konfisi tragis serupa terjadi lagi sebab kasus perdagangan dan penyelundupan manusia secara gelap "telah ditutup".

"Saya mau mengatakan, jika anda mau menghentikan orang tewas-tenggelam, anda harus menghentikan perahu itu," tambah Abbott, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi.

Ia mengatakan selama para penyelundup mengira mereka memiliki peluang untuk berhasil menempatkan orang di Australia, atau di negara lain, maka kecelakaan tragis terus terjadi.

Ia mengatakan Australia tidak menghadapi tragedi di laut seperti kasus anak Suriah sejak penerapan apa yang disebut pendekatan "garis keras".

"Selama orang mengira mereka dapat datang ke sini dan mereka dapat tinggal di sini, kita akan menghadapi perdagangan gelap. Kita akan menghadapi penyelundup manusia yang beroperasi, dan kita akan menghadapi tragis di laut," kata Abbott.

"Jadi, jika anda ingin menjaga keselamatan orang, anda harus menghentikan migrasi gelap, dan itu lah yang telah kami lakukan," katanya.

Komentara Abbott dikeluarkan setelah New York Times menyiarkan artikel yang mengeritik pendekatan pemerintah mengenai pencari suaka, dan menyebutnya tidak manusiawi.

Namun Senator Liberal Eric Abetz mengatakan Australia sudah meningkatkan penerimaan pengungsi dari Suriah dan Irak jadi 4.400 setelah krisis kemanusiaan di Timur Tengah bertambah parah.

"Menghentikan perahu memungkinkan kita memiliki penerimaan kemanusiaan yang adil dan itu lah yang akan kami capai," kata Abetz pada Jumat.

Dalam peristiwa terpisah, ayah dari anak lelaki Suriah yang berusia tiga tahun, yang jenazahnya dihanyutkan arus ke satu pantai Turki di dalam gambar yang mengejutkan dunia, pada Kamis (3/9) mengatakan anaknya "terlepas dari tangannya" saat perahu mereka dimasuki air dalam pelayaran ke Yunani.

Abdullah, yang nama keluarganya disebutkan oleh media Turki sebagai "Kurdi" tapi beberapa sumber di Suriah mengatakan sebenarnya nama keluarganya adalah "Shenu", kehilangan putranya yang berusia tiga tahun, Aylan, putranya yang berumur empat tahun, Ghaleb, dan istrinya, Rihana, dalam tragedi tersebut.

"Saya sedang memegang tangan istri saya. Tapi anak-anak saya terlepas dari tangan saya. Cuaca gelap dan semua orang berteriak-teriak," kata Abdullah "Kurdi" kepada surat kabar Turki, Dogan, saat perahu yang membawanya mulai tenggelam.

"Kami berusaha berpegang pada perahu kecil, itu mengempis," katanya.

Sebanyak 12 migran Suriah tewas-tenggelam pada Rabu (2/9), ketika dua perahu tenggelam di perairan Turki saat mereka menuju Pulau Kos di Yunani. Itu merupakian tragedi paling akhir yang dialami migran di Aegea.

Tapi perhatian telah tertuju pada Aylan (3), yang tubuh mungilnya dipotret tertelungkup di satu pantai di Tempat Pelancongan Bodrum. Gambar itu dengan cepat beredar dan menjadi lambang tragedi pengungsi. (ant)
Share on Google Plus

About red 2

Berita Dekho (www.beritadekho.com) merupakan media nasional yang pada awalnya didirikan untuk mempromosikan potensi alumni Indonesia yang pernah kuliah dan menimba ilmu di India dan negara-negara Asia Selatan. Lihat info selanjutnya di sini

0 comments:

Post a Comment

loading...